Porosnusantaranews,BALIKPAPAN — Risiko penularan campak di Kota Balikpapan meningkat seiring tingginya mobilitas masyarakat selama Idulfitri. Interaksi fisik seperti bersalaman dan berpelukan saat silaturahmi dinilai menjadi faktor yang mempercepat penyebaran penyakit ini.
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Hj Iim Rahman, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah tren kenaikan kasus. Tradisi berkumpul dalam berbagai kegiatan selama Lebaran disebut berpotensi memperluas penularan.
“Kalau Idulfitri orang salaman, cipika-cipiki, kumpul di banyak acara. Itu yang harus diwaspadai karena penyebarannya cepat lewat udara,” kata Iim saat ditemui di kantornya, pada Senin (30/3/2026).
Data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan menunjukkan adanya lonjakan kasus campak pada awal 2026. Hingga pertengahan Maret 2026, jumlah kasus tercatat lebih dari 200 dan telah menyebar di hampir seluruh kelurahan.
Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, mengatakan pola penyebaran kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika umumnya menyerang anak-anak, kini kasus justru banyak ditemukan pada kelompok usia 20 hingga 40 tahun yang belum memiliki riwayat imunisasi lengkap.
“Kalau sudah pernah imunisasi biasanya tidak terlalu parah karena sudah ada kekebalan tubuh,” ujar Alwiati.
Menurut dia, campak merupakan penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang mudah menular melalui droplet, terutama saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Menanggapi kondisi tersebut, Iim menilai penggunaan masker kembali relevan sebagai langkah pencegahan di tengah peningkatan kasus.
“Walaupun pakai masker lagi, tidak apa-apa, itu untuk melindungi diri,” katanya.
Selain itu, DKK Balikpapan menggencarkan program imunisasi kejar bagi masyarakat yang belum mendapatkan vaksin, terutama kelompok rentan. Upaya ini dinilai penting untuk menutup celah penularan di tengah aktivitas masyarakat pasca-Lebaran.
Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), antara lain mencuci tangan sebelum menyentuh bayi dan menghindari kontak fisik berlebihan.
“Jangan langsung menyentuh atau mencium bayi tanpa cuci tangan. Bisa saja kita membawa virus tanpa disadari,” kata Alwiati.
Langkah lain yang dinilai efektif adalah isolasi mandiri bagi penderita guna memutus rantai penularan, terutama di lingkungan keluarga.
Di sisi lain, Iim menyoroti rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke posyandu. Dari sekitar 1.800 posyandu yang ada, tingkat partisipasi dinilai masih belum optimal sehingga menjadi tantangan dalam upaya pencegahan penyakit.
“Masih banyak yang tidak datang ke posyandu. Padahal itu penting, bukan hanya untuk imunisasi tapi juga memantau kesehatan,” ujar Iim.
Untuk meningkatkan partisipasi, petugas di sejumlah wilayah melakukan pendekatan jemput bola dengan melibatkan aparat seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
Iim juga mendorong adanya inovasi agar posyandu lebih menarik, khususnya bagi kalangan muda.
“Mungkin perlu dibuat lebih menarik supaya anak muda juga mau datang, jadi tidak dianggap hal yang biasa saja,” ucapnya.
Ia menegaskan, upaya pencegahan campak tidak dapat hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor kunci.
“Petugas puskesmas dan posyandu jumlahnya terbatas, jadi kesadaran masyarakat itu yang utama,” katanya.
Pemerintah melalui Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat segera melengkapi imunisasi, menjaga kebersihan, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kontak dengan orang lain jika mengalami gejala campak seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan ruam merah.
Dengan peningkatan kesadaran masyarakat dan cakupan imunisasi, penyebaran campak di Balikpapan diharapkan dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa. (Adv/mto)
Tulis Komentar