Iklan Dua

Jejak Warna dari Tanah Borneo Ny. Satoro Konsisten Lestarikan Sulam Tumpar Kaltim

$rows[judul]

Porosnusantaranews,DI balik helai demi helai benang yang terajut rapi, tersimpan cerita panjang tentang cinta budaya dan ketekunan. Bagi Ny. Satoro, Sulam Tumpar bukan sekadar kerajinan tangan. Lebih dari itu, sulaman khas Kalimantan Timur tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak belia.

Perempuan yang memiliki nama kecil Sumanti itu tumbuh di lingkungan keluarga pengrajin Sulam Tumpar. Sejak kecil ia sudah akrab dengan pola, warna, hingga filosofi di balik setiap motif yang diajarkan orang tuanya.

“Kecintaan saya pada sulam tumpar tumbuh sejak kecil. Selain hobi, ini juga membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.

Keahlian yang diwariskan secara turun-temurun tersebut kini ia tekuni secara profesional. Dedikasinya terlihat dari setiap karya yang dihasilkan.

Proses pembuatan Sulam Tumpar tidak sederhana. Kain belacu atau dril disiapkan sebagai dasar. Motif digambar manual, lalu bagian tepi dirajut menggunakan benang levis hitam atau menyesuaikan desain. Bagian tengah kemudian diisi benang wol warna-warni cerah yang menjadi ciri khasnya.

Semua tahap itu menuntut kesabaran dan ketelitian tinggi. Bagi Ny. Satoro, kerapian adalah harga diri sebuah karya. Setiap jahitan menjadi cerminan profesionalisme sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Motif yang diangkat pun sarat makna. Anggrek, burung enggang, hingga naga kerap menjadi pilihan. Burung enggang melambangkan kebesaran dan kehormatan dalam budaya Dayak. Motif flora merepresentasikan kekayaan alam Kalimantan Timur. Sementara warna-warna cerah menggambarkan semangat dan harapan.

Menurutnya, inovasi tetap diperlukan agar Sulam Tumpar diminati generasi muda. Namun, pakem tradisi tidak boleh ditinggalkan.

Sebagai istri Serka Satoro, ia juga aktif di Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Anak Ranting 3 Komlek Cabang II PD VI/Mulawarman. Perannya tak hanya sebagai pendamping prajurit. Ia turut mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif melalui pelatihan Sulam Tumpar bagi anggota Persit.

Langkah tersebut menjadi kontribusi nyata dalam pelestarian budaya sekaligus peningkatan keterampilan anggota. Di lingkungan keluarga, ia pun menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada dua putrinya. Anak sulungnya kini mulai belajar menyulam sebagai generasi penerus.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tantangan terbesar adalah mengenalkan Sulam Tumpar kepada generasi muda. Ia berharap kerajinan khas ini semakin dikenal luas, tidak hanya di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional.

“Budaya adalah jati diri kita, jangan biarkan punah tergerus zaman,” pesannya.

Melalui konsistensinya, Sulam Tumpar terus hidup sebagai identitas Tanah Borneo warisan budaya yang akan tetap lestari selama dirawat dengan cinta dan kebanggaan. (*/mto)


■ PROFIL SINGKAT

- Nama kecil: Ny. Sumanti

- Nama: Ny. Satoro

- Nama suami: Serka Satoro

- Organisasi: Persit KCK Anak Ranting 3 Denkomlekrem 091 SMD, Ranting 3 Komlek Cabang II PD VI/Mulawarman

- Bidang: Pengrajin Sulam Tumpar

- Fokus: Pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi keluarga

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)