Iklan Dua

La Gramma Hadir di Balikpapan, Tawarkan Lapis Legit Premium dan Konsep Coffee Shop Kekinian

$rows[judul]
Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Tren kuliner di Kota Minyak kembali diramaikan pemain baru. La Gramma, toko oleh-oleh populer asal Pontianak, resmi hadir di kawasan Balikpapan Baru, tepatnya di Jalan H Tjutjup Suparna Blok G1, pada Kamis (23/4/2026).

Mengusung konsep specialty coffee shop, La Gramma tak hanya menjajakan kue khas, tetapi juga menawarkan pengalaman ngopi yang kekinian.

Produk andalan yang dibawa masih sama seperti di kota asalnya. Yakni lapis legit premium dengan varian original, prune, durian, hingga dodol. Selain itu, tersedia pula roti isi berbagai varian seperti ebi, ayam, keju, dan pisang. Menariknya, seluruh produk dibuat tanpa bahan pengawet.

Pemilik La Gramma, Afryandi, menjelaskan bahwa nama “La Gramma” diambil dari kata “grandma” atau nenek. Nama tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus identitas brand yang sudah melekat sejak awal usaha mereka.

“Dulu kami pakai nama Grandma’s Recipes, tapi terkendala hak paten. Sementara pelanggan sudah mengenal lapis legit kami dengan nama itu, jadi tetap kami pertahankan unsur ‘grandma’-nya,” ujarnya.



Ia mengakui, sosok nenek menjadi inspirasi utama dalam perjalanan bisnisnya. Selain faktor emosional, konsep tersebut juga ingin menghadirkan cita rasa rumahan yang autentik.

Ekspansi ke Balikpapan, lanjut Afryandi, bukan semata soal bisnis. Lebih dari itu, ia melihat peluang kota ini sebagai tempat berkembang, terutama dengan kultur masyarakat yang gemar ngopi.

“Balikpapan ini mirip Pontianak. Budaya ngopinya kuat, pagi sampai malam orang minum kopi. Itu yang bikin kami optimistis,” katanya.

Selain itu, faktor akses transportasi juga menjadi pertimbangan. Dari Pontianak ke Balikpapan hanya membutuhkan satu kali penerbangan langsung. Ditambah lagi, posisi Balikpapan sebagai gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai punya prospek besar ke depan.

La Gramma juga membawa visi yang cukup unik. Mereka ingin mengangkat kue tradisional seperti lapis legit agar bisa sejajar dengan pastry khas Eropa.

“Kalau di luar negeri orang minum kopi dengan croissant, kenapa kita tidak bisa dengan lapis legit? Itu visi yang kami bawa,” jelasnya.

Saat ini, La Gramma masih dalam tahap soft opening. Menu yang tersedia masih terbatas pada kopi, lapis legit, dan beberapa bakery. Namun ke depan, mereka berencana menambah hingga ratusan menu, termasuk kue kering, pastry, hingga makanan berat seperti sop buntut dan nasi goreng dengan konsep Indonesian bistro.

Untuk harga, La Gramma tergolong ramah di kantong. Kopi americano dibanderol sekitar Rp28 ribu, cappuccino Rp30 ribu, hingga minuman kemasan sekitar Rp35 ribu.



Afryandi juga memastikan seluruh kopi yang disajikan merupakan racikan sendiri. Biji kopi yang digunakan berasal dari Mandailing, Brasil, dan Ethiopia, yang diolah dengan proses roasting internal.

Tak hanya fokus pada bisnis, kehadiran La Gramma juga diharapkan berdampak pada perekonomian lokal. Saat ini, jumlah tenaga kerja masih belasan orang, namun ditargetkan bisa mencapai 30 hingga 40 karyawan, mayoritas dari tenaga lokal.

Dengan konsep yang menggabungkan cita rasa tradisional dan gaya modern, La Gramma optimistis bisa menjadi salah satu ikon kuliner baru di Balikpapan, sekaligus memperkuat posisinya sebagai oleh-oleh khas Kalimantan. (mto) 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)